tiba-tiba, air mataku tumpah. mendengar
kabar kakak tersayang diberi izin oleh Allah meluaskan sayapnya di bawah
naungan depag. Ia diterima. Ia lolos seleksi cpns. Ia berkesempatan untuk
mewujudkan cita-citanya. Ia akan menjadi seorang guru MTs di Provinsi tertimur
Pulau Jawa.
Grup yang menyatukan informasi-informasi
itu ramai. Sesekali kami juga mengenang masa lalu. Masa di mana kami masih
sering bersama. Melakukan banyak hal di bawah satu atap, di atas lantai keramik
yang bersih tiap hari selasa dan jumat itu. Membawa kembali serpihan ingatan
tentang Iva Shop. Bisnis asrama yang sangat kurindukan. Rindu bagaimana rasanya
mengorek-orek papan tulis IVA SHOP untuk sekadar iseng. Rindu rasanya utang
karena males ambil uang di kamar. Rindu dengan suasana pagi selepas para crew
kulakan di Pasar Kranggan. Rindu nongkrong sambil berisik di seputaran IVA
SHOP. Rindu mengomentari desain produk makanan yang sangat aneh. Rindu dengan
makanan bermicin yang sangat gurih. Rindu menanti flash sale. Rindu. Rindu. Rindu
banyak hal tentang itu. Tentang kami. Tentang mereka semua.
Rasanya seolah baru kemarin kita berbagi
canda. Kita berbagi tawa. Kita berbagi duka. Bahkan berbagi tempat tidur untuk
berdua. Namun lebih seringnya engkau yang mengalah saat aku terlebih dahulu
tidur di kasur birumu itu. Saking sebalnya mungkin, engkau bahkan memfoto
posisi tidurku yang seperti makhluk asing. Engkau rela mengungsi ke kamarku
lantaran singgasanamu itu sudah lebih dahulu kutimpai.
Mbak, jika jarak kita dekat, aku mungkin
sudah sering mengajakmu bermain. Mengajak berdiskusi, mencari kajian, dan
melakukan banyak hal. Tapi mbak, entah kenapa Allah menghadirkan jarak luar
biasa untuk kita. Sehingga darinya, terciptalah rindu yang tak kalah luar
biasa. Maka itulah hikmahnya. Agar kita bisa memupuk kerinduan di setiap
kenangan yang terlewat dalam pikiran.
Sedemikian rumit aku memaknai rindu itu. Apakah
itu juga berlaku buatmu?
semoga, Allah mudahkan segenap urusanmu, mbak. aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar