Kamis, 03 Maret 2016

Torehan Rasa


Sore ini jutaan titik-titik air dari langit telah sampai pada bumi, bersamaan dengan titik-titik air mata yang sampai pada pipi. Keduanya sama, deras dan berisik.
Ditemani kebosanan, dirundung berjuta protes yang tak tertuang. Meleleh dalam dinginnya angin yang mengiring hujan, membeku dalam panasnya suhu badan.
Anomali perasaan terasa tak beraturan, fikiranku seakan tak mampu mencerna segala tugas-tugasnya, diam membisu tak mau dipaksa lagi. Ah, manja! Padahal sudah kukabarkan padanya berkali-kali bahwa deadline tugas itu malam nanti. Tetap saja dia seperti itu, membisu. Arrrghh!
Lagi-lagi ragaku ikut-ikutan, sudah terhitung Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis.. lima hari. Hmmm rupanya sudah lima hari dia begini, berada pada kondisi di mana aku tak sanggup menjelaskan lagi. Bukan apa-apa, hanya saja sudah kubilang, fikirku sedang membisu. Percuma kujelaskan jika hanya ada SPOK yang tak beraturan.
Jika sudah seperti ini Tak bolehkah aku menangis? Memprotes Tuhan akan rasa yang tak seharusnya merasuk ini. Aku yang seharusnya kuat, aku yang seharusnya beraktifitas layaknya mereka, menjadi  remaja yang produktif, tapi nyatanya apa? Aku tak bisa.
Aku hanya tertahan dalam penjagaan sang guling dan bantal. Terbungkus selimut merah muda bermotif bunga yang sungguh tak sesuai dengan motif di hatiku. Saat ini duniaku sungguh terbatas. Layaknya putri cantik di istana yang akan diculik oleh penyihir jahat. Tapi sayang, aku tidak terlalu cantik, aku hanya manis.. dan siapa pula yang mau menculikku. Calon suami? :p
Mungkin, inilah titik terlemah yang katanya pasti dijumpai oleh setiap manusia. Manusia yang senantiasa dicintai Tuhannya, di mana kesabaran bukan soal mudah yang harus dihadapi. Tapi dibalik itu semua, ada manisnya karunia Tuhan yang sungguh luar biasa.
Sejenak memang perlu berfikir, merefleksikan setiap gerak dan dan sangka yang pernah tercipta sebelumnya. Menunda hasrat untuk protes pada Tuhan akan amanah yang ahsudahlah, mencoba menambah peran lain dalam diri, yaitu Si Pelaku dan Si Penyemangat.
Dan kini penyemangat berkata bahwa, Jangan salahkan amanah, jangan salahkan tugas, salahkan dirimu sendiri. Yang tak bisa membagi setiap waktu dengan baik, atau yang terlalu memforsir keterbatasan tenaga untuk mencapai hasil sebesar-besarnya. Memang, amanah memintamu untuk selalu kuat dalam setiap jerih payahmu, dia yang  tak pernah salah memilih pemikulnya. Ini sudah sangat sesuai dengan skenario maupun hukum alam di mana pemilik beban memang harus membawanya, namun.. sesuaikanlah apa yang dikeluarkan dengan apa yang dimasukkan. Raga juga memiliki hak!
Asupan fisik maupun hati usahakan adil, proporsional. Bukan sama rata. Akan sama saja bahkan akan sia-sia jika engkau terlalu menguras tenagamu, fikirmu, tetapi kau sungguh tak peduli dengan raga dan jiwamu. Bukan keberkahan yang akan kau dapatkan, tapi kedzaliman. Wajar jika engkau merasa kelelahan, sakit dan sebagainya.
Jadi, pahami kebutuhanmu, mengerti kewajibanmu, percantik gerakmu... semoga ketiganya mampu menyamankanmu dalam setiap aktifitas panjang yang akan mengantarkanmu pada surga. Kuncinya, kurangi curhat perbanyak kerja.
Yang lalu biarlah, sakitmu kini biarlah selesai pada waktunya, karena bukan saatnya lagi engkau mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain.. tapi sepenuhnya adalah kesalahanmu yang mudah-mudahan membelajarkan. Jangan diulangi.. sayangi tubuhmu, sayangi masa depanmu. Agar kelak yang lahir dari rahimmu adalah generasi robbani yang sehat. Selamat berjuang dalam perubahan yang baru ;)
Prambanan, 03 Maret 2016
Semoga lekas diberi kesembuhan oleh Allah :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar