Kamis, 03 Maret 2016

INSPIRING TEACHER



ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$

Niken Alimah Nugraheni
Bukankah kita semua ingin menjadi orang yang baik dan memperoleh kebaikan? Jika memang iya dan pasti iya, seseorang yang akan membuktikan kebaikannya dan mendapatkan kebaikan itu tentulah tidak hanya terdiam pada titik nyaman di dalam kotak tertutup yang aman dan selalu hangat. Celah kecil itu diperlukan, agar seberkas cahaya baru mampu masuk dan berganti. Dengan apa? Dengan membuka diri pada hal yang baru. Kenyamanan perlu sedikit dimodifikasi, modifikasi yang memerlukan perih dalam prosesnya. Volume kehangatan perlu sesekali dikecilkan, agar arti dunia yang sebenarnya dapat terasa.
Menjadi baik tak harus melulu mengalah. Cukup menjadi baik dengan passion yang kita miliki, passion yang tentunya akan mengantarkan kita menjadi orang baik. Berbicara passion memang mengarah pada sesuatu yang nyaman dan identik dengan hal yang kita cintai. Mungkin kita berfikir bahwa dalam menjalankan sesuatu yang dicintai tak perlu bersulit-sulit dalam sakit. Sehingga tak perlu menjadi baik dengan hal yang pelik. Cukup menjadi baik dengan hal yang nikmat dan disukai. Namun pernahkah mendengar tentang berkorban untuk cinta? Beginilah hidup dan jalan-jalan berliku di dalamnya, ada cinta dan ada berkorban. Dalam pengorbanan ada banyak nilai lebih di dalam sana.
Pengorbanan dan cinta untuk pejuang pendidikan yang selalu ingin mendedikasikan dirinya untuk berbuat kebaikan adalah bagaimana ia bisa mendidik dalam perih dan dingin, namun tetaplah menyamankan dan menghangatkan. Perih dalam berjuang, menyelami samudra ilmu nan luas, dan tak lekang oleh dimensi usia. Rela menempuh bertahun-tahun untuk mengisi dan terus mengisi dirinya dengan ilmu baru.
Mulai belajar dari buaian, lalu diantarkannya menuju pendidikan taman kanak-kanak, mencoba menggapai jenjang sekolah dasar, naik ke atas satu tingkat pada sekolah menengah pertama, menyempurnakan dengan menempuh pendidikan di sekolah menengah atas hingga pada akhirnya berlanjut pada pendidikan tinggi di ranah keguruan.
Mungkin proses itu yang telah kita lakukan. Tak semudah menuliskannya, tak sesederhana membacanya tidak pula sependek paragrafnya. Semua tentulah sulit, jauh di belakang sana hal sederhana yang menyulitkan adalah ketika menemukan soal ujian dan tak mampu menyelesaikannya. Jauh di belakang sana ada kisah orang tua bagaimana mereka berjuang membayar biaya pendidikan anaknya.
Juga tidak sederhana, proses itu rumit, berkaca pada waktu-waktu silam, terlihat di sana ada rumus-rumus begitu banyak melayang di kepala. Pun tidak bisa dibilang perjalanan yang singkat, bagaimana tidak, kisah kita selama belasan tahun ini dengan suka duka mengenyam dunia pendidikan begitu panjang.
Proses-proses itulah yang mengantarkan kita menuju jenjang ini, tahap awal di mana kita terpilih menjadi bakal calon penentu kemana bangsa ini akan dibawa. Akankah kita membawanya pada kebaikan? Lagi-lagi kembali kepada niat dan tujuan kita. Jika memang ingin menjadi orang baik dan ingin mendapatkan hal yang baik, tentulah sikap kita akan mencoba menselaraskan sesuai tujuan dan harapan kita.
jika memang niat sudah baik, tujuan sudah baik dan waktu sudah menjadi saksi bisu atas panjang, sulit dan rumitnya proses kita dalam berkorban, kebaikan apa yang akan kita lakukan setelah ini? Terlebih setelah pembelajaran di jenjang perguruan tinggi khususnya pada fakultas pendidikan.
Berbicara soal pendidikan, berbicara pula soal ilmu. Proses mendapatkan ilmu baru dan juga menyampaikan ilmu itu pada orang lain. Karena hakikat ilmu adalah untuk dipelajari, diamalkan dan diajarkan. Otomatis peran kita di dunia pendidikan tak hanya sebagai penerima dan penikmat ilmu yang diberikan oleh orang lain, namun juga harus mengetahui peran kita selanjutnya, yaitu mengamalkan ilmu itu dan mentransfer kepada orang lain
Untuk mentransfer ilmu itu tak harus menjadi seorang guru yang bersertifikat dan tertulis di daftar pemerintahan. Tetapi dengan adanya peran kita menyampaikan ilmu baru , kita dapat disebut guru bagi orang lain. Dengan catatan ilmu yang disampaikan bermanfaat dan mengandung kebaikan di sana.
Memang masalah sepele jika kita membicarakan tentang kebaikan, yang dipikirkan soal ilmu ya ilmu saja, asalkan berguna itulah ilmu. Namun tak mempertimbangkan dan tak memperdulikan baik tidaknya ilmu tersebut. Padahal jika ditelaah lebih lanjut ilmu yang tidak baik itu akan berdampak pada diri sendiri maupun orang lain. Ambil saja contoh konkrit tentang ilmu yang tidak baik, yaitu ilmu curi mencuri. Ilmu curi mencuri memang dianggap bermanfaat bagi orang-orang yang memiliki kepentingan untuk melakukan kegiatan pencurian, namun mereka tidak memperdulikan baik tidaknya ilmu itu. Apabila satu orang menemukan ilmu itu dan diajarkannya pada orang lain dan dipraktekkan oleh segelintir orang hingga pembuktian ilmu tersebut berhasil sampai mampu melakukan kegiatan pencurian dengan sukses dan pihak yang dicuri dirugikan, tentulah penyimpangan sudah terjadi. Dan dampak pahitnya tidak hanya dirasakan oleh korban, melainkan pelaku turut mendapatkannya, walaupun secara tidak langsung. Tak sampai pada pelaku saja, melainkan pada penyampai ilmu dan penemu ilmu tersebut juga turut serta mendapatkannya.
Dengan demikian, setiap pemilik, penyampai dan pelaksana ilmu masing-masing mendapat ganjaran yang sama. Oleh karenanya jika hakikat ilmu diterapkan pada hal keburukan, maka ganjaran yang buruk juga kelak akan didapatkannya. Pun sebaliknya apabila ilmu yang disampaikan, ditemukan dan diamalkan adalah ilmu yang mengarah pada kebaikan, tentulah ganjaran baik yang akan didapat pula.
Tak cukup sampai di situ, ilmu juga dijadikan sebagai tabungan, mengingat umur kita yang terbatas. Kenapa membicarkan umur? Umur jasad kita memang terbatas, tentu semua akan mengalamai mati, namun pernahkah berfikir bahwa ada umur yang tak pernah mati? Yaitu umur kebaikan jariyyah yang disalurkan pada orang lain dan ilmu itu diamalkannya. Otomatis ketika kita telah tiada dan ilmu itu masih terus diamalkan, tentulah akan menjadi umur amal sholih yang tak akan mati sampai rantai ilmu itu benar-benar terputus. Luar biasa bukan?
Sekarang tinggal pilih kita mau menjadi yang mana? Jawaban ada pada diri kita, tabungan jenis apa yang akan kita ambil, tabungan baikkah atau tabungan burukkah. Prosesnya sama, dengan cara yang sama. Hanya esensi, niat dan tujuan yang membedakan.
Pada kenyataannya kita akan dihadapkan dengan dua hal tersebut. Baik dan buruk memang selalu berdampingan, dan kita dituntut untuk bijak dalam memilihnya. Tentunya kebijakan itu tidak seharusnya kita nikmati sendiri, sangat perlu untuk kita bagi dengan orang-orang di sekitar kita. Terutama anak didik kita nantinya.
Tinggal masalah teknis, bagaimana cara terbaik kita menyampaikan ilmu itu agar tetap diterima dengan nyaman dan tetap hangat. Sekalipun prosesnya harus sedikit perih dan juga dingin. Bukan masalah. Asalkan niat sudah bulat dan memang tekad tak dapat ditawar lagi, semua akan berjalan sesuai dengan harapan. Toh Tuhan sesuai dengan perasangka hambaNya.
Dalam dunia pendidikan yang telah kita enyam dalam tempo yang tidak singkat ini, mungkin kita telah menemukan inspirator dalam hidup.
Karena mungkin hampir setiap orang memiliki seseorang yang menginspirasinya. Bagaimana seseorang dapat memberikan pengaruh dan membuat hidup kita merasa begitu ingin sepertinya.
Orang berpengaruh itu berkaitan erat dengan penyampaian ilmu. Mengapa? Karena seseorang yang telah terinspirasi dengan orang berpengaruh itu akan begitu mudah dalam menerima dan mungkin mengaplikasikan dalam hidup.
Hanya saja tidak semua orang yang berpengaruh berminat dalam menyampaikan ilmu, terutama ilmu-ilmu kebaikan. Padahal jika inspirator tersebut menyampaikan walau hanya satu kebaikan dan diikuti oleh banyak orang, tentulah menjadi ladang pahala yang begitu subur baginya. Menggiurkan bukan?
Kini harapan itu bertambah. Pertama adalah keinginan untuk menyampaikan ilmu baik, dan yang kedua adalah keinginan menjadi orang yang berpengaruh yang dapat menginspirasi orang lain, lalu keinginan terpuncak adalah menjadi inspirator yang dapat menyampaikan ilmunya pada orang lain.

Namun apakah kita bisa menginspirasi orang lain pula?



Torehan Rasa


Sore ini jutaan titik-titik air dari langit telah sampai pada bumi, bersamaan dengan titik-titik air mata yang sampai pada pipi. Keduanya sama, deras dan berisik.
Ditemani kebosanan, dirundung berjuta protes yang tak tertuang. Meleleh dalam dinginnya angin yang mengiring hujan, membeku dalam panasnya suhu badan.
Anomali perasaan terasa tak beraturan, fikiranku seakan tak mampu mencerna segala tugas-tugasnya, diam membisu tak mau dipaksa lagi. Ah, manja! Padahal sudah kukabarkan padanya berkali-kali bahwa deadline tugas itu malam nanti. Tetap saja dia seperti itu, membisu. Arrrghh!
Lagi-lagi ragaku ikut-ikutan, sudah terhitung Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis.. lima hari. Hmmm rupanya sudah lima hari dia begini, berada pada kondisi di mana aku tak sanggup menjelaskan lagi. Bukan apa-apa, hanya saja sudah kubilang, fikirku sedang membisu. Percuma kujelaskan jika hanya ada SPOK yang tak beraturan.
Jika sudah seperti ini Tak bolehkah aku menangis? Memprotes Tuhan akan rasa yang tak seharusnya merasuk ini. Aku yang seharusnya kuat, aku yang seharusnya beraktifitas layaknya mereka, menjadi  remaja yang produktif, tapi nyatanya apa? Aku tak bisa.
Aku hanya tertahan dalam penjagaan sang guling dan bantal. Terbungkus selimut merah muda bermotif bunga yang sungguh tak sesuai dengan motif di hatiku. Saat ini duniaku sungguh terbatas. Layaknya putri cantik di istana yang akan diculik oleh penyihir jahat. Tapi sayang, aku tidak terlalu cantik, aku hanya manis.. dan siapa pula yang mau menculikku. Calon suami? :p
Mungkin, inilah titik terlemah yang katanya pasti dijumpai oleh setiap manusia. Manusia yang senantiasa dicintai Tuhannya, di mana kesabaran bukan soal mudah yang harus dihadapi. Tapi dibalik itu semua, ada manisnya karunia Tuhan yang sungguh luar biasa.
Sejenak memang perlu berfikir, merefleksikan setiap gerak dan dan sangka yang pernah tercipta sebelumnya. Menunda hasrat untuk protes pada Tuhan akan amanah yang ahsudahlah, mencoba menambah peran lain dalam diri, yaitu Si Pelaku dan Si Penyemangat.
Dan kini penyemangat berkata bahwa, Jangan salahkan amanah, jangan salahkan tugas, salahkan dirimu sendiri. Yang tak bisa membagi setiap waktu dengan baik, atau yang terlalu memforsir keterbatasan tenaga untuk mencapai hasil sebesar-besarnya. Memang, amanah memintamu untuk selalu kuat dalam setiap jerih payahmu, dia yang  tak pernah salah memilih pemikulnya. Ini sudah sangat sesuai dengan skenario maupun hukum alam di mana pemilik beban memang harus membawanya, namun.. sesuaikanlah apa yang dikeluarkan dengan apa yang dimasukkan. Raga juga memiliki hak!
Asupan fisik maupun hati usahakan adil, proporsional. Bukan sama rata. Akan sama saja bahkan akan sia-sia jika engkau terlalu menguras tenagamu, fikirmu, tetapi kau sungguh tak peduli dengan raga dan jiwamu. Bukan keberkahan yang akan kau dapatkan, tapi kedzaliman. Wajar jika engkau merasa kelelahan, sakit dan sebagainya.
Jadi, pahami kebutuhanmu, mengerti kewajibanmu, percantik gerakmu... semoga ketiganya mampu menyamankanmu dalam setiap aktifitas panjang yang akan mengantarkanmu pada surga. Kuncinya, kurangi curhat perbanyak kerja.
Yang lalu biarlah, sakitmu kini biarlah selesai pada waktunya, karena bukan saatnya lagi engkau mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain.. tapi sepenuhnya adalah kesalahanmu yang mudah-mudahan membelajarkan. Jangan diulangi.. sayangi tubuhmu, sayangi masa depanmu. Agar kelak yang lahir dari rahimmu adalah generasi robbani yang sehat. Selamat berjuang dalam perubahan yang baru ;)
Prambanan, 03 Maret 2016
Semoga lekas diberi kesembuhan oleh Allah :)