Kamis, 12 November 2015

M E N U M P U K


Beban demi beban baru memenuhi ruang hampa dalam kehidupanku. Masalah tiada hentinya mengejar-ngejar diriku yang hanya bisa berlari pelan. Terlalu malas untuk menghadapinya, tak acuh dan hanya ingin menghindari, lupa. Namun rupanya si beban masih saja setia, ada dan tak mau pergi karena memang dia ingin kusentuh, ingin kuperhatikan dan ingin selalu hadir dalam lamunan maupun kesibukanku.

MAAF... Bukan bermaksud mendzalimimu, namun aku tidak sanggup.. kau hadir selalu bersama dengan teman-temanmu. Tak bisakah kau hadir sendiri? Agar aku dapat optimal menghadapimu dengan mudah.
Pun merasa bahwa hanya aku saja yang memiliki beban melimpah ruah, membludak tak tertampung. Seakan semua beban hanya ditujukan padaku, padaku saja. Mengingat kesanggupan dan kesabaranku yang sangat terbatas ini, aku menjadi tak sanggup dan hanya ingin mengeluarkannya dengan isakan-isakan lirih yang hanya dapat kudengar... Aku tak sanggup!!!

Mulai dari hal sepele, sedang, maupun besar, semua-muanya membuntutiku. Menghadapku yang jelas lemah ini, entah salah orang atau apa, aku merasa bukan aku orang yang tepat untuk diberi hal semacam itu. Aku takut gagal, aku takut munafik, aku takut keburukan mengincarku lagi. Complicated! so complicated!
Biarkan hati ini beristirahat sejenak, mereka mungkin tak melihatku lelah, begitu pula denganmu. Hanya tawa gilaku yang kau lihat, sehingga kau selalu hadir mencoba membuatku menangis gila. Begitukah?
Aku harus menangis di hadapan siapa? Mereka? Jelas aku malu... Aku lebih tak sanggup jika dipaksa menangisi kepedihan mendalam di hadapan khalayak ramai! Bukannya aku sok kuat! Jelas aku ini manusia rapuh.. Siapapun juga tahu.. Kefuturanku selalu kuumbar, kesabaranku selalu tergadaikan, kistiqomahankupun perlu dipertanyakan.
Begitukah kau sebut aku ini kekurangan masalah? Tengoklah aku sesekali di malam-malam yang temaram. Adakah air mataku tumpah di sana? Jumpakah kau dengan tisu-tisu basah terserak mengelilingiku? InsyaAllah keduanya dapat kau temui.. Dan kau mungkin tak tega untuk kembali menjemputku, memaksaku menjadi pemikulmu.
Datanglah kau di lain hari, pada saat aku menjauh dari Tuhanku. Datanglah lagi saat itu... Dan jadilah sesuatu yang dapat menyadarkanku. Agar dengan hadirmu aku selalu meminta kekuatan untuk melayanimu sampai kau dapat pergi dengan tenang dan penuh kepuasan. Aku mohon... Aku ingin optimal dalam menyambutmu bahkan jika aku harus melayanimu, aku harus sanggup. Karena kau memang ditakdirkan untukku, seorang lemah yang mencoba untuk kuat karena hadirmu beserta teman-temanmu. Terimakasih.

Jumat, 12 Juni 2015

RINDU RAMADHAN...





H-beberapa hari lagi, bulan terindah yang dinanti jutaan umat, di mana Muslimin dan Muslimat diberikan banyak kesempatan untuk menabung kebaikan. Yang pada salah satu malamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, lailatul qodar.
ketika bulan ini dijadikan ajang untuk mempererat tali silaturrahim, terlebih dalam suasana berbuka puasa bersama sanak saudara, bersama para tetangga di masjid desa, maupun bersama teman-teman terdekat sampai teman yang telah lama tak bersua dengan kita. di saat-saat itulah jutaan cambuk rindu akan bulan ini menyeruak...
bulan, yang di mana pada sepuluh hari terakhirnya ditunggu-tunggu oleh manusia perindu taubat. meramaikan rumah Allah, mengalirkan air mata dosa, melantunkan firman Sang Maha Cinta dengan nada, sampai acara saling berbagi ifthor terbaik untuk sesama.
walaupun,,, tak semua merasakan atmosfer kebahagiaan yang sama. dan disitulah kadang saya merasa sedih. Ternyata banyak juga yang menyikapi bulan ini dengan kesulitan dan rasa berat, yang hanya menyia-nyiakan obralan pahala dengan urusan dunia, meski aku pernah menjadi salah satu dari mereka.
di sanalah tantangan keistiqomahan begitu dimainkan. Karena tak semua yang berapi-api dalam menyambut ramadhan mampu mempertahankan apinya sampai finish tanpa kenal padam. padahal belenggu setan amat kuat mengikat, tetapi belenggu setan manusia justru lebih leluasa menggoda nafsu-nafsu tertahan untuk lepas dikeluarkan.
MAMPUKAH KITA MELEWATINYA? JAWABANNYA DITENTUKAN OLEH #KEISTIQOMAHAN
SELAMAT BER-RAMADHAN RIA, BER-RAMADHAN CERIA, BER-RAMADHAN PAHALA J

Sabtu, 18 April 2015

JAYALAH NEGERIKU!



Pagi ini aku menangis, melihat jutaan masalah yang menimpa bumi pertiwi saat ini. realita yang tidak dapat dipungkiri siapapun.. bangsaku, titipan Tuhanku telah carut marut bagaikan gulungan benang kusut yang harus diulur.
aku tahu aku salah,karena aku hanya bisa menangis dan membuktikan lemahnya imanku pada diriku sendiri. jujur aku sangat sedih. baru kali ini aku merasakan betapa porak porandanya bangsa kita, tidak karuan. permasalahan bagaikan bawang, membuat lapisan-lapisan baru tanpa menyelesaikan yang terdahulu. pemimpin congkak dengan pendidikan tinggi, namun tak sebanding dengan aqidah dan akhaq yang mengiringi.
kesedihanku makin menjadi dan terlihat alay ketika nasyid-nasyid haroki memenuhi ruangan kecil dan sesak di dalam ujung rumahku. kamar kecil (bukan kamar mandi) ini yang menghantarkanku untuk berfikir, merenung, dan mengkritisi realita dalam diam...

Dahulu, ilmu dan pengetahuanku akan ranah yang seperti ini sangatlah nol besar. politik, ekonomi, kenegaraan, dan dinamika yang ada masih kalah telak dengan Korea-koreaan yang melenakan mata dan hati. Membenci pelajaran PKn sudah menjadi spontanitas yang mutlak bagi diriku saa itu. Bahkan saking akutnya,nama actor, aktris, boyband, girlband, bahkan kasarnya tukang sayur Koreapun aku kenal namanya, dan lebih kuhafal di luar kepala daripada mereka-mereka yang telah menggerogoti hasil juang pahlawan dan mujahid yang rela bertaruh harta jiwa raga demi merdekanya INDONESIA. duh,  betapa ‘lucu’nya diriku...
Sebenarnya ini peranku, bersama denganmu wahai mahasiswa-mahasiswa Indonesia! Tangan-tangan kita inilah, lisan-lisan kita inilah serta doa-doa kitalah yang nantinya akan menggerakkan perputaran sistem dan tatanan pemerintahan serta kebijakan-kebijakannya. jika melihat pemimpin saat ini, pemimpin yang baru kemarin sore dilantik, masih hangat dan fresh from the oven, tapi masalah yang dihasilkan sudah membusuk menumpuk-numpuk... tidakkah kita merasa geram, gusar dan gemas? apa maunya? dan apa maumu? kita mau apakan pemerintahan seperti ini?
pemimpin yang dipimpin, pemimpin yang semangat juangnya tak kuketahui, pemimpin yang wawasan sejarah Indonesianya entah berantah, pemimpin tertinggi yang bahkan tanda tanganpun asal coret tanpa adanya tabayyun dan tafakkur. kalo gitu yang terus terjadi, aku juga mau keleus minta tanda tangannya :P akan kuminta beliau ini menandatangani kesepakatan insaf dan tersadar akan adanya hidup setelah mati.
Rasanya jadi dongkol sendiri, malu, kecewa, dan tidak dapat diterima oleh hati nuraniku yang terdalam. Pemimpin penebar tirani, pemimpin penebar kemungkaran, pemimpin penebar mazmumah. dan pemimpin seperti itulah yang seharusnya membuat kita mendengar, terbangun dan selalu bergerak untuk meluluh-lantahkan tirani dan meruntuhkan segala angkara murka!
Oleh karena itu, jika kau dan aku menjadi kita dan jika kita menginginkan kejayaan hakiki.. maka majulah wahai mujahid muda, mahasiswa Indonesia! dalam satu cita dan tujuan kita tegakkan keadilan, kebenaran, kesejahtaraan. singkirkan batas yang ada di antara kita dan satukanlah kata.. tanpa rasa bimbang dan ragu, terus melaju. hapuslah, lepaskanlah bayang-bayang semu di dalam lubuk hatimu.. karena sesungguhnya harapan itu masih ada, dan jika kita terus berjuang, jalanpun akan senantiasa membentang menyambut langkah kita. dan keinginan memuncak memaksa pita suara bergesekan dan berteriak dengan lantang “JAYALAH NEGERIKU!”
 
Prambanan, 17-18 April 2015
yang sedang gelisah, Niken A.N

Kamis, 09 April 2015

~WITHOUT TITLE~

Without Title
-Niken Alimah Nugraheni-


Bila ajalku tiba nanti
Jangan biarkan aku sesakit ini
Kuikhlaskan saja kali ini ku menderita
Sekiranya cukup untuk membayar semua dosa

Aku tahu bahkan selalu tahu
Dosaku menggunung tak terhitung
Detik, menit selalu berlalu
Dengan dosa yang menumpuk satu per satu

Oh, Tuhan.. Oh, Allah..
Kurasakan selalu nikmat tak terkira
Tanpa persembahan dariku yang sempurna
Namun Kau selalu saja memberi
Terus memberi tanpa henti

Kau Yang Maha Pengampun
Penyayang apapun siapapun...
Diri kecil ini ingin meminta
Ampun dan kasih dari Sang Maha Cinta

Luka baru di penghujung hari, pada 26 Desember 2014.

Rabu, 08 April 2015

Lagi-lagi Tentang Cinta




 bismillahhirrahmaanirrahiim..
 http://panjimas.net/wp-content/uploads/2015/01/cinta.jpg

Ketika cinta muncul di permukaan, mengapung tanpa tujuan hanya mengikuti arus menuju muara. Namun entah muara atau belokan yang dituju, cinta hanya melaju. Begitu mudah terbawa arus, singgah di setiap hambatan-hambatan baru. Bersama rindu, benci bahkan bayangan masa lalu. Terkadang kuatnya arus memaksa cinta untuk kembali mengarungi lika-liku dan lurusnya perjalanan mencapai tujuan. Siap tak siap, cinta harus pergi karena cinta tak selalu layak untuk bertahan, diam dalam hambatan.
Jutaan warna dan keindahan ditemuinya, terkadang cinta mampu merasakan lamanya mencicipi suguhan warna baru dalam golakan cinta, namun tak jarang pula cinta begitu mudah melewati keindahan yang hadir karena lagi, kekuatan arus yang tak pernah diketahui kadarnya.
Namun hebat, cinta tidaklah mudah berputus asa. Karena memang cinta tetap butuh singgah sesaat merasakan goresan warna baru dalam kehidupan. Entah aral, hujan bahkan badai sekalipun pasti terluluhlantahkan. Karena cinta itu kedahsyatan yang mengejutkan. Walau terasa lemah dan mudah hanyut begitu saja, cinta punya tenaga yang bermakna.
Selamat berproses dalam menemukan kesejatian cinta...

~Niken Alimah Nugraheni~
18 tahun
Prambanan, 07 April 2015