Pagi ini aku menangis, melihat jutaan masalah yang menimpa
bumi pertiwi saat ini. realita yang tidak dapat dipungkiri siapapun.. bangsaku,
titipan Tuhanku telah carut marut bagaikan gulungan benang kusut yang harus
diulur.
aku tahu aku salah,karena aku hanya bisa menangis dan membuktikan lemahnya imanku pada diriku sendiri. jujur aku sangat sedih. baru kali ini aku merasakan betapa porak porandanya bangsa kita, tidak karuan. permasalahan bagaikan bawang, membuat lapisan-lapisan baru tanpa menyelesaikan yang terdahulu. pemimpin congkak dengan pendidikan tinggi, namun tak sebanding dengan aqidah dan akhaq yang mengiringi.
kesedihanku makin menjadi dan terlihat alay ketika nasyid-nasyid haroki memenuhi ruangan kecil dan sesak di dalam ujung rumahku. kamar kecil (bukan kamar mandi) ini yang menghantarkanku untuk berfikir, merenung, dan mengkritisi realita dalam diam...
Dahulu, ilmu dan pengetahuanku akan ranah yang seperti ini sangatlah nol besar. politik, ekonomi, kenegaraan, dan dinamika yang ada masih kalah telak dengan Korea-koreaan yang melenakan mata dan hati. Membenci pelajaran PKn sudah menjadi spontanitas yang mutlak bagi diriku saa itu. Bahkan saking akutnya,nama actor, aktris, boyband, girlband, bahkan kasarnya tukang sayur Koreapun aku kenal namanya, dan lebih kuhafal di luar kepala daripada mereka-mereka yang telah menggerogoti hasil juang pahlawan dan mujahid yang rela bertaruh harta jiwa raga demi merdekanya INDONESIA. duh, betapa ‘lucu’nya diriku...
aku tahu aku salah,karena aku hanya bisa menangis dan membuktikan lemahnya imanku pada diriku sendiri. jujur aku sangat sedih. baru kali ini aku merasakan betapa porak porandanya bangsa kita, tidak karuan. permasalahan bagaikan bawang, membuat lapisan-lapisan baru tanpa menyelesaikan yang terdahulu. pemimpin congkak dengan pendidikan tinggi, namun tak sebanding dengan aqidah dan akhaq yang mengiringi.
kesedihanku makin menjadi dan terlihat alay ketika nasyid-nasyid haroki memenuhi ruangan kecil dan sesak di dalam ujung rumahku. kamar kecil (bukan kamar mandi) ini yang menghantarkanku untuk berfikir, merenung, dan mengkritisi realita dalam diam...
Dahulu, ilmu dan pengetahuanku akan ranah yang seperti ini sangatlah nol besar. politik, ekonomi, kenegaraan, dan dinamika yang ada masih kalah telak dengan Korea-koreaan yang melenakan mata dan hati. Membenci pelajaran PKn sudah menjadi spontanitas yang mutlak bagi diriku saa itu. Bahkan saking akutnya,nama actor, aktris, boyband, girlband, bahkan kasarnya tukang sayur Koreapun aku kenal namanya, dan lebih kuhafal di luar kepala daripada mereka-mereka yang telah menggerogoti hasil juang pahlawan dan mujahid yang rela bertaruh harta jiwa raga demi merdekanya INDONESIA. duh, betapa ‘lucu’nya diriku...
Sebenarnya ini peranku, bersama denganmu wahai
mahasiswa-mahasiswa Indonesia! Tangan-tangan kita inilah, lisan-lisan kita
inilah serta doa-doa kitalah yang nantinya akan menggerakkan perputaran sistem
dan tatanan pemerintahan serta kebijakan-kebijakannya. jika melihat pemimpin
saat ini, pemimpin yang baru kemarin sore dilantik, masih hangat dan fresh from the oven, tapi masalah yang
dihasilkan sudah membusuk menumpuk-numpuk... tidakkah kita merasa geram, gusar
dan gemas? apa maunya? dan apa maumu? kita mau apakan pemerintahan seperti ini?
pemimpin yang dipimpin, pemimpin yang semangat juangnya tak kuketahui, pemimpin yang wawasan sejarah Indonesianya entah berantah, pemimpin tertinggi yang bahkan tanda tanganpun asal coret tanpa adanya tabayyun dan tafakkur. kalo gitu yang terus terjadi, aku juga mau keleus minta tanda tangannya :P akan kuminta beliau ini menandatangani kesepakatan insaf dan tersadar akan adanya hidup setelah mati.
pemimpin yang dipimpin, pemimpin yang semangat juangnya tak kuketahui, pemimpin yang wawasan sejarah Indonesianya entah berantah, pemimpin tertinggi yang bahkan tanda tanganpun asal coret tanpa adanya tabayyun dan tafakkur. kalo gitu yang terus terjadi, aku juga mau keleus minta tanda tangannya :P akan kuminta beliau ini menandatangani kesepakatan insaf dan tersadar akan adanya hidup setelah mati.
Rasanya jadi dongkol sendiri, malu, kecewa, dan tidak dapat
diterima oleh hati nuraniku yang terdalam. Pemimpin penebar tirani, pemimpin
penebar kemungkaran, pemimpin penebar mazmumah. dan pemimpin seperti itulah
yang seharusnya membuat kita mendengar, terbangun dan selalu bergerak untuk
meluluh-lantahkan tirani dan meruntuhkan segala angkara murka!
Oleh karena itu, jika kau dan aku menjadi kita dan jika kita
menginginkan kejayaan hakiki.. maka majulah wahai mujahid muda, mahasiswa
Indonesia! dalam satu cita dan tujuan kita tegakkan keadilan, kebenaran,
kesejahtaraan. singkirkan batas yang ada di antara kita dan satukanlah kata..
tanpa rasa bimbang dan ragu, terus melaju. hapuslah, lepaskanlah bayang-bayang
semu di dalam lubuk hatimu.. karena sesungguhnya harapan itu masih ada, dan
jika kita terus berjuang, jalanpun akan senantiasa membentang menyambut langkah
kita. dan keinginan memuncak memaksa pita suara bergesekan dan berteriak dengan
lantang “JAYALAH NEGERIKU!”
Prambanan, 17-18 April 2015
yang sedang gelisah, Niken A.N
yang sedang gelisah, Niken A.N