Rabu, 30 Januari 2019

O.A.L


tiba-tiba, air mataku tumpah. mendengar kabar kakak tersayang diberi izin oleh Allah meluaskan sayapnya di bawah naungan depag. Ia diterima. Ia lolos seleksi cpns. Ia berkesempatan untuk mewujudkan cita-citanya. Ia akan menjadi seorang guru MTs di Provinsi tertimur Pulau Jawa.

Grup yang menyatukan informasi-informasi itu ramai. Sesekali kami juga mengenang masa lalu. Masa di mana kami masih sering bersama. Melakukan banyak hal di bawah satu atap, di atas lantai keramik yang bersih tiap hari selasa dan jumat itu. Membawa kembali serpihan ingatan tentang Iva Shop. Bisnis asrama yang sangat kurindukan. Rindu bagaimana rasanya mengorek-orek papan tulis IVA SHOP untuk sekadar iseng. Rindu rasanya utang karena males ambil uang di kamar. Rindu dengan suasana pagi selepas para crew kulakan di Pasar Kranggan. Rindu nongkrong sambil berisik di seputaran IVA SHOP. Rindu mengomentari desain produk makanan yang sangat aneh. Rindu dengan makanan bermicin yang sangat gurih. Rindu menanti flash sale. Rindu. Rindu. Rindu banyak hal tentang itu. Tentang kami. Tentang mereka semua.

Rasanya seolah baru kemarin kita berbagi canda. Kita berbagi tawa. Kita berbagi duka. Bahkan berbagi tempat tidur untuk berdua. Namun lebih seringnya engkau yang mengalah saat aku terlebih dahulu tidur di kasur birumu itu. Saking sebalnya mungkin, engkau bahkan memfoto posisi tidurku yang seperti makhluk asing. Engkau rela mengungsi ke kamarku lantaran singgasanamu itu sudah lebih dahulu kutimpai.

Mbak, jika jarak kita dekat, aku mungkin sudah sering mengajakmu bermain. Mengajak berdiskusi, mencari kajian, dan melakukan banyak hal. Tapi mbak, entah kenapa Allah menghadirkan jarak luar biasa untuk kita. Sehingga darinya, terciptalah rindu yang tak kalah luar biasa. Maka itulah hikmahnya. Agar kita bisa memupuk kerinduan di setiap kenangan yang terlewat dalam pikiran.

Sedemikian rumit aku memaknai rindu itu. Apakah itu juga berlaku buatmu?

semoga, Allah mudahkan segenap urusanmu, mbak. aamiin.


Jumat, 18 Januari 2019

Aku mau bilang selamat

Selamat buatmu yang telah menemukan sosok teman paling spesial. Selamat bagimu yang berhasil membuatku belajar merelakan. Kau tahu. Aku masih belajar. Dalam belajar, aku mungkin gagal. Tapi aku akan berusaha. Aku gak papa.

Jika dia bisa menerimamu dengan tulus, bersyukurlah. Jika dia sudah mencintai keluargamu sebagaimana dia mencintaimu, maka betapa beruntungnya dirimu. Jika dia tak mempermasalahkan apa yang nampak padamu, berbahagialah. Tandanya kau benar-benar telah menemukan gantiku. Yang namanya ganti memang harus dilepas. Gabisa dipake sama-sama. Maka lepas saja aku ini. Toh aku sudah terlalu lama dan membosankan. Aku tahu, tanpa perlu kau katakan, aku sudah tahu.

Semoga dia tidak memaksamu menjadi kurus, semoga dia tidak menjadikanmu orang lain, semoga dia menerima setiap yang ada padamu, lalu tak menuntutmu dengan banyak hal. Dan sebaliknya, semoga dia membuatmu selalu senang.

Sampaikan salamku ke mamahmu, mbak mita, dan orang rumah. Aku mendoakan agar mereka sehat. Akupun berdoa agar tsaqif juga segera tumbuh menjadi lelaki kecil yang hebat. Dan sebagaimana yang dulu pernah aku minta. Tolong sampaikan salamku kepada perempuan pilihanmu itu. Pemenang atas sepuluh tahun aku menyimpan perasaan padamu.

Iya, aku kalah lagi. dan kalah berkali-kali. lagi-lagi, kau sudah punya hati untuk dicintai.

Aku tak akan mepermasalahkan komitmenmu. Aku juga tak akan menyalahkan ucapanmu bahwa ini bukanlah cinta monyet anak SMA. Tapi jujur saja, sikapmu belum menunjukkan itu semua. Mohon maaf, aku kecewa.

Kini, jalanku dan jalanmu sudah berbeda. Aku masih sendiri, sedangkan kau telah berdua.


Mulai kali ini, aku akan belajar tersenyum lebih sering lagi. Biarpun ini berat, tapi ku tau. Diduakan itu jauh lebih berat.