Di balik jendela kamar yang terbuka, ada cahaya meneduhkan di atas sana.
Ditemani semilir angin malam dan secangkir kopi ‘beli 2 gratis 1’ , terselip kabar bahagia yang tak disangka.
Sendiri dalam sunyi aku menuliskan kata demi kata, mengekspresikan kerinduan pada dia yang sedang berada di suatu tempat nun jauh di sana.
Yang di balik jendelanya, ada pula cahaya meneduhkan berpendar serupa.
Cahaya itu sama.
Cahaya yang dapat kami tatap berdua, walau jarak antara kita terbentang luar biasa.
Cahaya yang seolah-olah mendekatkan, berpelukan tanpa bersentuhan.
Cahaya yang membuat penantian tak terasa begitu membosankan.
Cahaya yang membuat kesendirian tak terlalu memilukan.
Cahaya yang menjadikan kerinduan antara ibu dan anak terasa hangat dan menentramkan.
Terimakasih rembulan, purnama setengah ‘grimpil’ yang membuat pahitnya rindu menjadi syahdu.
Begitulah ARTI PURNAMA. Di mana cahaya, cinta, cerita, dan berjuta rasa berpadu menjadi pendar indah yang mempesona.